Lembah Baliem

Lembah Baliem berlokasi di Papua Barat, dengan kota singgah: Wamena.

Luas daerahnya 60km x 20 km, dengan perkiraan penduduk sebanyak 100.000 jiwa, yang mayoritas adalah Suku Dani. Ada pula kelompok yang namanya; kelompok Kurelu, yaitu mereka yang masih hidup menurut perspektif “zaman batu”.


Untuk mencapai kota Wamena, kita harus menggunakan transportasi udara dengan pesawat baling-baling, yang dapat memuat lebih kurang 30 orang. Tidak ada jalur transportasi darat dari dan ke Wamena. Bahan bakar minyak, bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari diterbangkan melalui Bandara Sentani (Kota Jayapura), karena itu, biaya hidup di Wamena tergolong mahal.

Alamnya indah, namun kurang terurus, namun masih menyisakan tempat tempat indah untuk lokasi memotret. Selain itu, kehidupan masyarakat sehari-hari sangat menarik sebagai obyek “human interest photography”. Ada satu kebiasaan masyarakat yang masi premordial, di dudun-dusun yang menuntut bayaran untuk mau di rekam fotonya dengan cara berhitung yang akumulatif. Artinya tarifnya ditentukan berdasarkan jumlah gambar yang direkam dan jumlah orang yang ada didalam satu bingkai.

Ketika kami berkesempatan ke sana, pada tahun 2007, tarif nya  Rp 3.000,-, per bingkai, per orang, Jadi kalau kita memotret seorang wanita Dani dengan anaknya, tarifnya adalah Rp 6.000,- perbingkai. Dalam istilah mereka 1 bingkai adalah 1 “kutik”, istilah gaul kita adalah 1 jepretan. Untuk menghindari polemik, sebaiknya, sebelum memotret kita pastikan dahulu berapa biayai satu kutik, dengan orang yang dianggap pemimpin. Kemudian, kita pastikan “subyek” yang kita pilih. Bila ada penawaran-penawaran tambahan, kita boleh menolak dan mereka tidak akan tersinggung. Sebaliknya kalau kita membiarkan usul mereka berlangsung, bisa-bisa isi dompet kita tidak akan mencukupi. Pastikan juga kita membawa sejumlah uang kecil, pecahan ribuan dan lima ribuan untuk membayar honorarium “model/talent” kita. Jaga hubungan baik dengan para pemuka, karena simpati mereka dapat memperlancar hubungan kita.

Kalau mau memotret dengan “gratis”, berpartisipasilah dalam Festival Lembah Baliem, yang digelar pada Bulan Agustus (beberapa minggu sebelum Hari Kemerdekaan) stiap tahunnya. Di festival yang disponsori Pemerintah ini, kita bebas memotret di arena festival (biasanya sebuah tanah lapang yang luas yang diberi rambu-rambu pembatas). Lucunya, di luar areal ini kita akan dikenakan lagi tarif memotret yang berlaku.           Banyak atraksi menarik selama festival yang berlangsung empat hari sampai seminggu ini. Setiap hari ditampilkan beberapa aktraksi ketrampilan, tari dan musik, serta perang-perang antar suku yang amat dinamis.


Tip lain sehubungan dengan kesehatan, adalah persiapan diri untuk terhindar dari malaria, mulai meminum pil kina beberapa hari sebelum dan setelah mengunjungi Papua dan membawa lotion anti nyamuk. Juga baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan meminum obat-obatan/vitamin suplemen.

Sebuah bukit yang menjadi lokasi sebuah resort milik orang Jerman, juga merupakan “titik observasi” yang menarik, untuk menyaksikan keindahan Lembah Baliem, sore dan di ambang senja. Perasaan damai dan keindahan alam ciptaan Yang Kuasa, membuat kita betah menunggu, sampai matahari menhilang di sebelah Barat.

Pencapaian Propinsi Papua, yang jauh dari Jakarta dengan infrasruktur setempat yang minimal, perlu dijelajah dengan rencana dan  perhitungan yang matang, agar perjalanan yang dilakukan memberikan manfaat yang optimal.

Sungguh, negeri kita, Indonesia punya banyak tempat yang indah dan menarik. Rencanakan perjalanan atau liburan Anda berikutnya dengan mengunjungi tempat-tempat eksotis seperti Lembah Baliem.

Jayapura menjelang senja

About jepretter

My name is Goenadi Haryanto and I am an Indonesian Professional Photographer, mainly dealing with tourism photography.
This entry was posted in Photography. Bookmark the permalink.

7 Responses to Lembah Baliem

  1. arya abieta says:

    bagus banget pa….
    terutama pemandangan senja di Lembah baliem….. fantastik
    sukses !!!

  2. Hengky says:

    sedikit tambahan koreksi utk PIL anti malaria, tertulis pil Kita , tetapi yg benar adalah Pil Kina.
    terima kasih,

  3. werrytan says:

    keren2 fotonya pak… sebelum membaca tentang Festival Lembah Baliem, saya sempat mencoba menghitung jumlah orang yang berlari dikalikan Rp. 3000, hahahaha….

  4. elisa eka bungawaty says:

    foto2 yg menggambarkan pesona baliem yg cantik.

  5. Ello says:

    alam indah Anugerah TUHAN yang ajaib, mari kita jaga Papua kita dan jaga Wamena.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s