Hanami Photo Shooting, the free and easy way (Part 2)

 

Toko kerajinan tangan di Arashiyama

Melanjutkan perjalanan kami di Arashiyama, kami batalkan kunjungan ke Tenryuji Temple, karena dari luar kelihatan Bunga Sakuranya masih menguncup. Pilihannya adalah langsung menuju Hutan Bambu yang menarik di pinggiran Taman dari Tenryuji Temple.

Arasiyama (1)

Di depan Nonomiya-jinja shrine, sekelompok wisudawan usai melakukan ritual syukur, selepas upacara akademik

Arasiyama

Menyusuri jalan sepanjang lebih kurang 400 meter, menikmati pemandangan hutan bambu yang keren

Arasiyama (2)

Sekelompok Maiko menyemarakan suasana di The Bamboo Grove, Arashiyama.

 Mumpung sedang agak santai dan tidak banyak anggota rombongan yang perlu diurus, kami putuskan untuk mengambil rute yang tidak biasa, sambil sekalian melakukan survey.

Ternyata spekulasi ini memberikan hasil di luar dugaan, karena kami menemukan jalan pintas yang penuh kejutan ke arah Stasiun Hankyu, yang memang merupakan tujuan berikutnya.

Biasanya untuk kembali ke pusat keramaian, di ujung hutan bambu, kami menyusuri kembali, jalan menurun. Kali ini kami teruskan dan di persimpangan berikutnya, kami memilih jalan ke kiri yang terbuat dari batu-batu. Beberapa obyek foto menarik dalam penyelusuran ini adalah pohon-pohon tua yang artistik.

old treeAkhirnya kami menemukan juga tanda petunjuk ajalan yang mengindikasikan arah; The Togetsukyo Bridge  (“Moon Crossing  Bridge”). Dari rasa bimbang sebelumnya, kini terbayang kira-kira peta yang akan kami lalui.

The bridge

A stroll in the evening

The bridge (1)

Ranting-ranting yang belum dihiasi kuntum-kuntum sakura

The bridge (2)

Ngobrol sejenak.

 

The bridge (3)

Jembatan yang kami tuju dengan pemandangan di belakangnya.

 Beginilah tampak dari bunga-bunga Sakura yang baru mulai “mentas”, menghiasi dahan-dahan kering, setelah “berjuang” selama musim salju.The bridge (4)
 The bridge (6)

 “Ritual selfie” dengan penarik rickshaw di dekat jembatan Togetsukyo.

The bridge (7)

 

 

 

 

 

Kumpulan awan yang menarik, menambah asyik suasana di petang hari.

 The bridge (5)
 The bridge (9)
 
 

 

 

 

 

 

 

“oji-san” Anwar sangat membantu mereka yang narsis membuatkan fotonya. 

 

 

The bridge (10)

Sebuah cafe di tepian sungai yang romantis di kala senja,

 

The bridge (11)

Stasiun di mana kami menuju “pulang” ke Osaka, langsung dari Arashiyama.

Perjalanan memakan waktu lebih kurang 65 menit, langsung menuju Stasiun Umeda di Osaka, yang sudah sangat kami kenal. Berulang kali Pak Anwar menyatakan betapa nyamannya kartu terusan tersebut, apalagi setelah kehilangan yang dimilikinya, sehingga dapat membandingkan “harga terusan”, vs harga eceran.
Karena kartu terusan yang ada masa berlakunya berakhir tengah malam itu, kami berikhtiar untuk membeli lagi untuk 2 hari berikutnya. Apa daya, kami sulit menemukan counternya, karena kebetulan tourist information yang kami dapati tutup pada sore itu, dan perut keroncongan serta kaki yang pegal mengharuskan kami rehat dan mencari makan malam dulu di Stasiun Umeda. Setelah makan, dengan pikiran yang lebih jernih, kami berhasil menjumpai counter penjualan, terlambat beberapa menit.

Baiklah besok pagi saja, semoga keberuntungan menyertai kami.

Day 3 (5)

08:00 Suasana pagi di Stasiun Umeda, setelah berhasil mendapatkan kartu terusan seharga 2000 Yen.

Day 3 (4)

Menuju platform Hankyu Line, melalui jalur yang belum pernah kami lalui.

Day 3 (6)

Ternyata mengasyikkan.

 

Day 3 (3)

Menunggu bus di Shijo Kawaramachi.

 
Day 3 (1)

Dalam perjalanan ke Heian Shrine di Kyoto.

Day 3 (2)

Gapura masuk Heian Shrine.

 
Day 3

Frame within frame dengan pintu dan pilar2 kayu yang masif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berbekal cetakan google map yang kami bawa dari Jakarta, kami berhasil memetakan di mana kami harus berpindah kereta/bus menuju sasaran yang kami rencanakan. Sukses,…di sinilah manfaat kartu terusan membuktikankan “kesaktian”nya. 

Kalau kita boleh memetakan spot fotografi di Kyoto menjadi dua bagian besar, saya menyebutkannya sebagai “bagian Barat Kyoto”, yang kami jalani hari sebelumnya dan hari ini kami menjelajah; “bagian Timur Kyoto”.

 Sejatinya di sebelah Utara Heian Shrine ada dua spot yang tidak kami jelajahi, yaitu: Ginka-kuji (The Silver Pavillion), yang merupakan “adik” dari Kinka-kuji dan The Philosopher’s Path (Walk), yang kami antisipasi belum mekar  (mankai) bunga sakuranya, sehingga mungkin kurang menarik untuk dipilih sebagai obyek fotografi.

Day 3 (7)

Gerbang Selatan Heian Shrine

Day 3 (19)

Arsitektur tradisional Rumah Jepang, yang disebut Machiya (town house).

 Keputusan kami adalah menyusuri jalur yang saya hafal betul, karena menjadi jalur yang dilalui berjalan kaki di tahun 2011, ketika memotret; Mineko Iwasaki (Memoirs of A Geisha) dan suami beliau, untuk Garuda Inflight Magazine. Target sampai makan siang adalah, sampai di Kaniya Restaurant, yang terkenal dengan hidangan kepiting, sesuai dengan namanya.

Day 3 (8)

Dua Maiko sedang berjalan dengan latar belakang Maciya (town house). Untuk mendapatkan foto ini waktu yang diperlukan kira-kira 20 menit, mulai dari “menemukan” kedua Maiko ini dari kejauhan, sedang menuju ke arah kami berada, memilih settingnya, menunggu mereka berbelanja dan berharap mereka akan melewati set yang kami pilih.

 

 Day 3 (18)

Sebelum tiba di Maruyama Park, ketika Pak Anwar sedang asyik memotret pohon-pohon artistik yang bisa kita jumpai sepanjang jalan tersebut, saya menemukan sebuah rumah dengan kebun yang rindang, memberikan keteduhan di hati dan istirahat sejenak.

Selanjutnya, kami tiba ditempat parkir bus, sekitar Maruyama Park, tepatnya di seberang Choin-in Temple, tempat saya dijemput oleh Jin’ichirō Satō-san, yaitu suami dari Mineko Iwasaki, sebelum sessi pemotretan.

Day 3 (9)

Sebuah pohon Sakura yang tengah mekar di sudut jalanan.

 

 
Day 3 (20)

Menantang langit yang biru.

 

 

 

 

 

 

 

 

Memasuki gerbang Maruyama Park, suasana persiapan Festival Hanami mulai terasa. Lapak-lapak telah digelar dan dijaga oleh beberapa orang secara bergantian, guna memastikan pada waktunya tidak diserobot kelompok lain. Urusan jaga menjaga ini bisa berlangsung berhari-hari. Dugaan kami yang kami jumpai adalah persiapan untuk hari Sabtu – Minggu dua/tiga hari ke depan.

Day 3 (16)

Persiapan untuk Festival Hanami.

Day 3 (15)

Day 3 (21)
 

 

 

 

 

 

 

 Keberuntungan lain yang kami jumpai di dalam Maruyama Park, adalah sessie pemotretan pre wedding. Tidak melewatkan kesempatan emas ini, kami mengabadikan beberapa frame. Pengantin prianya, cukup fasih berbahasa Inggris. Tercermin dari responnya atas ucapan selamat kami, yang dijawab dengan; “thank you, sir”.

Day 3 (13)

Kaniya Restaurant, a must to try, 300 meter dari “pertigaan Gion” (perkampungan Geisha yang sohor).

Makan siang kami terdiri atas; nasi putih yang pulen, misoshiru, dan tempura udon, lengkap dengan acar2 an dan salad.

Usai makan siang, kami menyebrang jalan lagi ke tujuan berikutnya Kiyomizudera Temple (Temple of The Pure Water), melalui lorong-lorong yang menanjak, melewati “machiya town houses” di Higashiyama dan Hokan-ji Temple, di antara perkampungan yang padat. Banyak atraksi di jumapi di sini, yaitu; gerai2 yang menjual suvenir dan makanan yang khas. Juga aktivitas pengunjung, baik para turis maupun penduduk tempatan, yang menambah meriahnya suasana Hanami kali ini.

ari ke 3 (2)

ari ke 3ari ke 3 (1)

 Memasuki pelataran Kiyomizudera, ratusan orang telah memadati hampir seluruh area, sehingga sulit mendapatkan sudut fotografi yang baik.

Di samping itu bagian inti dari temple ini, tengah menjalani restorasi, penuh dengan perancah dan bahan bangunan, serta para tukang yang terlibat dalam pekerjaan konstruksi tersebut.

Day 3 (10)

Sebuah restoran di pelataran yang tinggi dengan pohan Sakura yang asri.

 

ari ke 3 (3)

Pagoda Utama Kiyomizudera.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Katahati ingin berlama-lama di sini, karena banyaknya potensi foto “human interest” yang menarik, namun demikian, kami melanjutkan pengembaraan kami, di sore hari itu, ke spot lain yaitu: Fushimi Inari Temple, di bagian tenggara Kyoto.

ari ke 3 (4)

ari ke 3 (5)Cuaca menjelang senja, sungguh membantu mendapatkan foto-foto yang bagus. Cahaya yang lunak-lunak kuat itu, merekam nada warna dan suasana yang enak dipandang mata.

Agak lama juga kami di lokasi ini, karena merupakan spot terakhir utnuk hari itu, Kamis, 26 Maret 2015.

Jarak lokasi Fushimi Inari Temple ke “stasiunnya”, cukup dekat dan datar, sehingga tidak terlalu berat untuk di jalani.

Dengan sekali “salah” mengambil keputusan, akhirnya kami berhasil mendapatkan KRL, jarak jauh untuk kembali ke Osaka. Jalurnya berbeda dari yang biasa kami jalani, sehingga perlu berganti kereta dua kali untuk sampai di Higobashi, tempat kami menginap.

Continued to: https://jepretter.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=821&action=edit&message=6&postpost=v2. 

 

 
 
 
 

About jepretter

My name is Goenadi Haryanto and I am an Indonesian Professional Photographer, mainly dealing with tourism photography.
This entry was posted in Photography, Phototrips. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s