Salju di awal musim semi.

#jntoid

Hari Pertama, 24 Februari 2016.

Bagi fotografer seperti saya yang bermukim di negeri tropis, mendapatkan kesempatan memotret pemandangan dan kegiatan musim dingin di akhir bulan Februari 2016, adalah   “ sesuatu banget “.

Di akhir bulan Februari, setelah “lunar new year” (tahun baru imlek), kita memasuki musim semi, dan saljupun biasanya mulai melumer.

Tidaklah demikian halnya, di Karuizawa, Nagano, Jepang. Sebuah wilayah peristirahatan yang lokasinya  2 jam dan 30 menit berkendara dari kota Tokyo. Bila kita menumpang Shinkansen, kedua tempat tersebut terhubung lebih cepat lagi, dengan waktu kurang dari satu jam saja. Saljunya baru akan menghilang menjelang mekarnya bunga sakura, di akhir bulan Maret.

Nagano Perfecture,  menjadi sohor, sebagai salah satu lokasi ice skating (berseluncur di atas es) terbaik di dunia,  setelah Olympiade Musim Dingin (Winter Olympics) tahun 1998. Ketika itu peseluncur cantik dan belia; Michelle Kwan, meraih medali emasnya yang pertama untuk kategori bergengsi “figure skating”. Di tahun-tahun berikutnya, ia tidak terbendung untuk menjadi salah satu atlet wanita yang melegenda. Lebih jauh tentang prestasinya dapat dibaca di;  https://en.wikipedia.org/wiki/Michelle_Kwan.

Rest Area

Refleksi pelataran parkir Rest Area, di jendela besar sebuah restoran.

Satu jam menjelang tujuan, kita jumpai sebuah rest area yang asri, untuk sejenak melepas lelah. Selanjutnya jalan yang dilalui, mulai berkelok dan menanjak, di sana-sini terlihat tumpukan salju, di antara bangunan dan perbukitan yang menambah asyiknya perjalanan.

1 saljusurvival

Foto kiri: Salju di antara sisa-sisa rumput kering musim gugur, dengan latar belakang penanda musim semi, yang segera akan datang, membawa bunga Sakura ke alam permai ini.
Foto kanan: Dua lembar daun yang masih berwarna hijau. Selamat melalui Musim dingin yang menderanya.

Dalam setiap perjalanan, ada saja “blessing in disguise”. Agak kurang tepat pilihan tujuan di alat GPS, kendaraan yang kami tumpangi melenceng kira2 duapuluhan kilometer dari sasaran (overshot). Namun demikian bukanlah suatu kebetulan, bila kesalahan ini membawa berkah, kami malah mendapatkan spot-spot menarik dan perbukitan cemara yang masih berbalut salju. Ada keinginan untuk berhenti memotret, tetapi, mencapai sasaran menjadi prioritas kami. Putar haluan, kembali ke arah kami datang, berhenti sebentar untuk menelepon ke penginapan. Kesempatan ini tentulah dimanfaatkan untuk merekam satu atau 2 bingkai, meskipun hanya menggunakan kamera smartphone.

2 Arsitektur Victorian

Di tempat kami berputar balik, sebuah penginapan dengan gaya arsitektur kolonial sederhana.

Mengamati keindahan alam, dalam perjalanan kembali, kami merancang agenda “buru foto” untuk keesokan paginya. Beruntung, driver kami Hatekawa-san tidak berkeberatan untuk siap dengan kendaraannya pada pukul 06:00 dan mengantarkan kami menjelajah “winter wonderland” yang molek itu.

Menjelang ketibaan kami di penginapan, ada spot foto lagi yang dapat kami rekam, yaitu sebuah lansekap ” musim dingin” di perbukitan.

4-gabungan

Foto kiri: sebuah pemandangan menjelang senja berselimut salju. Foto kanan: Fotografer dan pengelana senior Don Hasman, memotret Shinya Kashimura,  disaksikan oleh Toriuchi Sanchan, keduanya adalah tuan rumah dan guide kami selama perjalanan. Di sisi kiri, Hatekawa-san, driver kami, sedang menyebrang jalan.

Hari pertama, diakhiri dengan mengunjungi factory outlet, yang berlokasi di sebelah tempat kami menginap. Kemudian di tutup dengan makan malam, sebelum beristirahat memulihkan energi yang terkuras, setelah perjalanan selama 8 jam dari Jakarta – Tokyo dan pagi sampai siang hari, mengunjungi Asakusa di Tokyo. Kemudian diikuti dengan pejalanan darat selama 3 jam dan memotret di Karuizawa di petang dan malam hari.

6 FO Prince

Prince Karuizawa factory outlet. Di sekitar tempat parkir ini masih kelihatan tumpukan-tumpukan salju yang belum melumer

 

Hari Kedua, 25 Februari 2016.

Sesuai dengan kesepakatan malam sebelumnya, jam 06:00, mini bus (van) yang kami gunakan telah siap di depan lobby hotel. Sebelum berangkat saya menyempatkan meminum secangkir teh hangat manis, dengan harapan dapat membantu daya tahan tubuh di suhu udara minus 8 derajat Celsius. Pakain dalam thermal yang dikenakan juga amat membantu, menjaga suhu tubuh  tetap stabil, ditambah penutup kepala wool, sampai telinga dan sarung tangan yang tebal. Sayangnya, ketika memoret, sarung tangan harus dilepas untuk dapat menekan tombol pelapas rana.

Satu tip kecil bagi teman-teman yang berniat memotret dengan suhu udara yang dingin, adalah: 1. Jangan biarkan kamera anda terus menyala, jika jeda memotret. 2. Bawalah batere cadangan yang cukup, karena powernya akan terkuras dalam waktu yang singkat.  3. Jika berjalan-jalan, dan tidak memotret, simpanlah kamera di bawah jaket, agar terjaga dengan kehangatannya oleh suhu tubuh kita dan terhindar dari bunga es yang bertebaran sekitar tempat kita memotret. 4. Sebelum berangkat ke lokasi, biarkan perlengkapan fotografi anda menyesuaikan diri dengan temperatur sekitar kita, supaya tidak terjadi kondensasi pada lensa dan bingkai bidik, meskipun di daerah bersalju, kelembaban udara, biasanya rendah.

Gabung-8-(01)

Suasana pagi di perbukitan Kariuzawa, ketika sinar matahari belum menembus pohon-pohon dan menciptakan bayangan yang memukau di atas salju.
 Day 2 (13)
Di kala sinar matahari mulai memainkan cahaya terang dan gelap di atas hamparan salju.

Day 2 (14)

Tatanan alam di sebuah tikungan jalan, yang amat menawan. Menampilkan kehangatan sejati dalam cuaca yang dingin.
Day 2 (15)
Foto kiri:
Warna-warna yang cetar mulai menghiasi alam sekeliling, yang 20 menit sebelumnya hanya bernuansa kelabu, seakan enggan bangun dari tidurnya yang nyenyak.

Selesai memotret di daerah perbukitan, dalam perjalanan ke penginapan untuk sarapan, kami mampir di “down town” Karuizawa. Secara arsitektur ditata rapi dan menarik, menampilkan kesan meriah, bersahabat dan hangat.

Foto bawah:
Sebuah “telephone” booth” di pusat Kota Karuizawa, berhiaskan salju di sekeliling dan bangunan-bangunan berwarna cerah, menghibur mata yang sebelumnya hanya memandang lansekap saja.

Day 2 (18)

Winter sports activities.

Seusai sarapan pagi dengan kualitas “stamina breakfast”, kami mampir di “winter activities resort”, yang cukup ramai dengan pemain ski, snow boarding dan ice skating, meskipun hari  itu adalah hari kamis.

Ada 10 jalur untuk berseluncur di atas salju, tiap-tiap jalur dikhususkan bagi tingkat kemahiran para pemain, mulai dari balita dan pemula, sampai ke tingkat mahir dan profesional.

Bagi mereka yang tidak membawa perlengkapan olah raga musim dingin, disediakan peralatan dan baju khusus, dengan cara rental. Dengan demikian, kalau kita hanya mampir ber incognito saja, kita bisa menikmati keceriaan berseluncur di atas salju. Kalau belum mahir, ada beberapa instruktur yang siap mendampingi.

Day 2 (20)

Suasana sekitar clubhouse winter activities, lokasi awal, maupun akhir dari kegiatan berseluncur di atas salju.

Day 2 (21)

Seorang balita, dengan bantuan ayahnya berseluncur dengan santai, di lokasi level satu.

Day 2 (22)

Selain perlengkapan sport, dandanan untuk beraktivitas di atas salju juga menjadi aksesori yang penting. Tentu saja tersedia otomat minuman ringan (dingin dan hangat), sebagai sarana pelepas dahaga.

Day 2 (25)

Kursi gantung (sky lift), siap membawa anda ke titik puncak dari level yang anda pilih. Anda dilarang turun dengan sky lift, karena sarana untuk turun harus dan hanya menggunakan perlengkapan untuk berseluncur (skating shoes, skate boards, ski, bob sledge dan sejenisnya.

Day 2 (26)

Ruang penyewaan perlengkapan dan peralatan berseluncur.

Day 2 (29)

Untuk sensasi sempurna bersalju ria, tersedia akomodasi “log cabin”, yang rustic dan menyenangkan, sehingga kunjungan anda ke tempat ini akan selalu dikenang.

Day 2 (31)

Hidangan pembuka, makan siang kami hari kedua, salad dengan aneka sayuran segar. Yang paling depan wujudnya segitiga berwarna pink adalah winter radish, yang sejatinya adalah umbi-umbian sejenis lobak, yang rasanya lebih mirip dengan umbi bangkuang kita, tetapi lebih “delicate”.

Day 2 (30)

Kedua host kami, Toriuchi Sanchan dan Shinya Kashimura, yang selalu sabar memberikan pengarahan dan bantuan yang diperlukan.

Blog ini adalah bagian pertama dari beberapa blog yang kami tulis, sebagai jurnal perjalanan “fam trip” ke Tokyo dan sekitarnya, tanggal 23 Februari 2016 – 27 Februari 2016. Trip ini berlangsung atas undangan Japan National Tourism Organisation (JNTO).

 

About jepretter

My name is Goenadi Haryanto and I am an Indonesian Professional Photographer, mainly dealing with tourism photography.
This entry was posted in Japan Fam Trip, February 2016, Phototrips. Bookmark the permalink.

One Response to Salju di awal musim semi.

  1. buditomo says:

    perjalanan yg sangat menyenang kan, di suguh kan dengan hamparan salju dan pemandangan yg menarik di mata, dan langit yg sangat bersih dari polusi 👍👍👍😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s