Odaiba, Pulau buatan di Teluk Tokyo.

Hari 4 (7)

Penulis di depan benteng “Osaka Castle”. Photo credit: Anwar Soehendro

Dalam rangkaian Famtrip ke Tokyo dan sekitarnya, kunjungan ke Odaiba, merupakan suatu event yang menarik dari ilmu tata kota.

Pembangunannya telah dimulai tahun 1853, di masa Shogun Tokugawa, untuk membentengi Tokyo dengan deretan buah 6 pulau dari serangan armada laut Komodor Perry . Kata “Daiba” dalam bahasa Jepang berarti; “benteng”.

Tahun 1923, daerah ini dibuka untuk umum, sebagai ruang terbuka publik.

Di era 1980 an, setelah Tsukuba Expo (1985) digagas sebuah rancangan untuk menggabungkan ke enam pulau tersebut dengan daratan di mana Kota MegapolitanTokyo berada. Pembangunan “pulau buatan”, sebuah sentra ekonomi barupun dimulai, namun demikian terpaksa dihentikan antara tahun 1991 – 1995, karena buruknya keadaan ekonomi, yang dikenal sebagai “bubble ekonomi”, sebuah pertumbuhan ekonomi semu, yang sewaktu-waktu bisa pecah berantakan, seperti sebuah bola sabun.

rainbow

The Rainbow Bridge, di depannya ada replika dari ” Statue of Liberty ” dan di latar belakangnya, sebagai menara berwarna jingga adalah : The Tokyo Tower (ditengarai sebagai replika dari The Eifel Tower)

Tahun 1996, dilakukan re-zonasi dan pembangunanpun dilanjutkan, dengan menghubungkan “Tokyo Daratan”, dengan berbagai jembatan dan terowongan. Di antaranya ada sebuah jembatan yang amat sohor, yaiyu : “Jembatan Pelangi” (The Rainbow Bridge), yang sekaligus menjadi landmark dari Odaiba, disusul oleh berbagai pengembangan area komersil dan hiburan.

Fuji

Gedung Fuji TV, yang merupakan salah satu landmark yang cukup mencolok.

Tanggal 25 Februar1 2016, kami menapakkan kaki di sebuah pedestrian mall, yang membentang dari arah tenggara ke barat laut. Tidak lama, karena waktunya di petang hari itu sangat terbatas. Sebuah poros yang langsung dapat kami rasakan di pedestrian mall tersebut, adalah “terhubung” nya 3 bangunan landmark penting, mulai dari Telcom Center, dibagian paling Tenggara, lalu; The Rainbow Bridge dan The Tokyo Tower di bagian paling Barat Laut.

Tenggara

Sebuah sudut pandang ke arah Tenggara, dengan bangunan “mirip La Defence”, Paris, dengan pengakhiran                                                                bangunan Telecom Center (atapnya bewujud lingkaran).                                                         Tombak mas di sebelah kanan mengingatkan kita pada Kota Paris juga.

Sebuah penataan kota yang mirip dengan Kota Paris, dengan Eifel Towernya, Arc De’Triomph dan La Defence, demikian juga berbagai bangunan di sepanjang pedestrian mall nya, banyak sekali yang merupakan replika bangunan-bangunan antik dengan  gaya Perancis.

Analisa dalam waktu singkat tersebut, tentunya belum dapat disimpulkan, sebagai suatu kajian yang mantap, tetapi itulah first impression kami dari Odaiba.

lembayung

Jembatan Pelangi,di penghujung pedestrian walk Odaiba, kala lembayung senja, dengan Tokyo Tower di kejauhan.

Untuk mewakili ciri Jepang masa kini, sebuah patung Robot Gundham, ditempatkan di bawah pedestrian mall ini di kompleks Gedung Diver City,

1gundham

Photo credit: Toriuchi Sanchan.

Perjalanan untuk mengenal Tokyo dan sekitarnya, keesokan harinya dilanjutkan ke Kota Yokohama, menapakkan kaki di Yokohama Chinatown dan Motomachi, d sini kami sempat makan siang bersama Miyakawa-san dan isterinya (teman lama bekerja antara tahun 1988 – 1992, di Jakarta Fair).

gu

Esoknya  trip kami dilanjutkan ke Harajuku dan berakhir di Tokyo Tower, sebelum kami mengucapkan “Sayonara” kepada Tokyo dan Fujiyama.

Tower

nightFujiyama

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ketika kata “Indonesia”, menjawab.

Judul di atas belumlah terlalu lengkap. Seharusnya: ” Ketika kata Indonesia menjawab pertanyaan: Where are you from?, Menyurutkan sorot mata yang sangar menjadi lebih bersahabat “

Kata “Harajuku” di Tokyo, Jepang, amatlah familiar di telinga kita. Tentunya ada di antara anda yang sangat memahami seluk beluk bagian kota yang namanya sohor itu, karena telah berkunjung ke sana atau sekurangnya telah banyak berita dan catatan yang anda pirsa atau baca dari berbagai media.

Buat saya, baru pada kesempatan Fam Trip JNTO, akhir Februari yang lalu, saya menapakkan kaki di sana, meskipun cukup sering saya mengunjungi Tokyo dan mengimbau untuk bisa memotret di sana.

Persepsi saya tentang Harajuku, tidak lebih dari 3 buah foto yang menjadi ilustrasi berikut ini.

No-1

Ya, betul, dandanan Punk Rock dan Costplay.

Seusai makan siang di Motomachi-Yokohama, tanggal 26 Februari 2016,  kami menggunakan KRL, menuju Stasiun Shibuya yang sibuk, untuk kemudian pindah jalur kereta ke Tokyo Metro Ginza Line, kemudian berjalan kaki dari stasiun Omote-Sando.

Rombongan berpisah di sini dan sesuai petunjuk yang diberikan, di Meiji Dori, saya berjalan kaki ke arah barat daya, mencari landmark yang disarankan, yaitu sebuah jam besar.  Melewati subway gate Meiji-jinggu – mae, feeling mengatakan, bahwa perjalanan kami telah melenceng dari sasaran, karena di sebuah simpang jalan besar, kami melihat taman dan beberapa ikon yang kami kenal, sebagai bagian dari Meiji Temple yang telah kami kunjungi sebelumnya.

Berbekal hand phone yang praktis, kami hubungi pimpinan rombongan, sambil berputar arah, kembali ke sebuah lokasi yang sangat intriguing , sebuah kiosk yang menjual berbagai varian kondom, “Condomania”.

condomania

Ternyata spot ini cukup sukses untuk menjadi titik temu, di mana kami mendapatkan penjelasan tentang alternatif jalur yang harus dipilih. Arahnya ke timur laut, sampai lampu merah pertama belok kiri. Setelah menyusuri jalan tersebut, kami tahu namanya adalah; “gang” Takeshita, yang selanjutnya, kami sadari sebagai pusat keramaian “Harjuku”. Jalan sempit ini, suasananya sangat mirip dengan daerah Kuta di Bali. Banyak toko-toko keci yang menawarkan handucraft, kaos warna-warni dan berbagai suvenir. Dalam hati, saya merasa diri “sangat kampungan”, karena sangat minim pengetahuan tentang Harajuku yang sohor ini.

promo

Apapun yang ditulis di atas kertas itu, maksudnya pasti “promo”.

Tapi ngga apalah, pucuk dicinta, ulam tiba. Memotret street photography adalah niat utama yang harus dilaksanakan. Ragam foto candidpun, menjadi obyek-obyek utama di awal perjalanan yang mengasyikkan itu. Ada sebuah spot yang langsung menggelitik untuk direkam. Subyeknya adalah orang-orang, yang kami duga berasal dari Benua Afrika.

Dengan banyak pengalaman situasi serupa sebelumnya, kami minta ijin untuk memotret. Ternyata ditolak mentah2 dengan kata-kata; no,..no,..no, oleh subyek yang kami sasar. Rupanya ada boss nya yang berada disebrang, dan bertanya kepada kami: Where are you from?. Mungkin beliau memperhatikan tingkah laku dan dandanan saya yang bereda dengan orang-orang lain sekitar. Saya menjawabnya dengan satu kata: “Indonesia”. Serta merta sorot matanya yang sangar, berubah menjadi bersahabat dan dia bilang kepada temannya: Indonesia. OK, Japanese, No !.

Afro

Merasa mendapatkan angin saya langsung menjepret  beberapa frame dan menyampaikan terima kasih dalam bahasa Indonesia yang ditanyanya: What’s that ?.  Dengan sigap saya bilang: Thank you in Indonesia, Brother. Dan diapun manggut-manggut sambil tersenyum, saya berlalu, menghindari keakraban berlebihan.

don
Don Hasman terekam CCTV di Giant LCD, disebrang Harajuku Station

pisan

Sepasang kekasih dengan busana dan aksesori yang Harajuku banget.

Tujuan kami berikutnya adalah Tokyo Tower, yang sangat mirip Menara Eifel di Paris.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Salju di awal musim semi.

#jntoid

Hari Pertama, 24 Februari 2016.

Bagi fotografer seperti saya yang bermukim di negeri tropis, mendapatkan kesempatan memotret pemandangan dan kegiatan musim dingin di akhir bulan Februari 2016, adalah   “ sesuatu banget “.

Di akhir bulan Februari, setelah “lunar new year” (tahun baru imlek), kita memasuki musim semi, dan saljupun biasanya mulai melumer.

Tidaklah demikian halnya, di Karuizawa, Nagano, Jepang. Sebuah wilayah peristirahatan yang lokasinya  2 jam dan 30 menit berkendara dari kota Tokyo. Bila kita menumpang Shinkansen, kedua tempat tersebut terhubung lebih cepat lagi, dengan waktu kurang dari satu jam saja. Saljunya baru akan menghilang menjelang mekarnya bunga sakura, di akhir bulan Maret.

Nagano Perfecture,  menjadi sohor, sebagai salah satu lokasi ice skating (berseluncur di atas es) terbaik di dunia,  setelah Olympiade Musim Dingin (Winter Olympics) tahun 1998. Ketika itu peseluncur cantik dan belia; Michelle Kwan, meraih medali emasnya yang pertama untuk kategori bergengsi “figure skating”. Di tahun-tahun berikutnya, ia tidak terbendung untuk menjadi salah satu atlet wanita yang melegenda. Lebih jauh tentang prestasinya dapat dibaca di;  https://en.wikipedia.org/wiki/Michelle_Kwan.

Rest Area

Refleksi pelataran parkir Rest Area, di jendela besar sebuah restoran.

Satu jam menjelang tujuan, kita jumpai sebuah rest area yang asri, untuk sejenak melepas lelah. Selanjutnya jalan yang dilalui, mulai berkelok dan menanjak, di sana-sini terlihat tumpukan salju, di antara bangunan dan perbukitan yang menambah asyiknya perjalanan.

1 saljusurvival

Foto kiri: Salju di antara sisa-sisa rumput kering musim gugur, dengan latar belakang penanda musim semi, yang segera akan datang, membawa bunga Sakura ke alam permai ini.
Foto kanan: Dua lembar daun yang masih berwarna hijau. Selamat melalui Musim dingin yang menderanya.

Dalam setiap perjalanan, ada saja “blessing in disguise”. Agak kurang tepat pilihan tujuan di alat GPS, kendaraan yang kami tumpangi melenceng kira2 duapuluhan kilometer dari sasaran (overshot). Namun demikian bukanlah suatu kebetulan, bila kesalahan ini membawa berkah, kami malah mendapatkan spot-spot menarik dan perbukitan cemara yang masih berbalut salju. Ada keinginan untuk berhenti memotret, tetapi, mencapai sasaran menjadi prioritas kami. Putar haluan, kembali ke arah kami datang, berhenti sebentar untuk menelepon ke penginapan. Kesempatan ini tentulah dimanfaatkan untuk merekam satu atau 2 bingkai, meskipun hanya menggunakan kamera smartphone.

2 Arsitektur Victorian

Di tempat kami berputar balik, sebuah penginapan dengan gaya arsitektur kolonial sederhana.

Mengamati keindahan alam, dalam perjalanan kembali, kami merancang agenda “buru foto” untuk keesokan paginya. Beruntung, driver kami Hatekawa-san tidak berkeberatan untuk siap dengan kendaraannya pada pukul 06:00 dan mengantarkan kami menjelajah “winter wonderland” yang molek itu.

Menjelang ketibaan kami di penginapan, ada spot foto lagi yang dapat kami rekam, yaitu sebuah lansekap ” musim dingin” di perbukitan.

4-gabungan

Foto kiri: sebuah pemandangan menjelang senja berselimut salju. Foto kanan: Fotografer dan pengelana senior Don Hasman, memotret Shinya Kashimura,  disaksikan oleh Toriuchi Sanchan, keduanya adalah tuan rumah dan guide kami selama perjalanan. Di sisi kiri, Hatekawa-san, driver kami, sedang menyebrang jalan.

Hari pertama, diakhiri dengan mengunjungi factory outlet, yang berlokasi di sebelah tempat kami menginap. Kemudian di tutup dengan makan malam, sebelum beristirahat memulihkan energi yang terkuras, setelah perjalanan selama 8 jam dari Jakarta – Tokyo dan pagi sampai siang hari, mengunjungi Asakusa di Tokyo. Kemudian diikuti dengan pejalanan darat selama 3 jam dan memotret di Karuizawa di petang dan malam hari.

6 FO Prince

Prince Karuizawa factory outlet. Di sekitar tempat parkir ini masih kelihatan tumpukan-tumpukan salju yang belum melumer

 

Hari Kedua, 25 Februari 2016.

Sesuai dengan kesepakatan malam sebelumnya, jam 06:00, mini bus (van) yang kami gunakan telah siap di depan lobby hotel. Sebelum berangkat saya menyempatkan meminum secangkir teh hangat manis, dengan harapan dapat membantu daya tahan tubuh di suhu udara minus 8 derajat Celsius. Pakain dalam thermal yang dikenakan juga amat membantu, menjaga suhu tubuh  tetap stabil, ditambah penutup kepala wool, sampai telinga dan sarung tangan yang tebal. Sayangnya, ketika memoret, sarung tangan harus dilepas untuk dapat menekan tombol pelapas rana.

Satu tip kecil bagi teman-teman yang berniat memotret dengan suhu udara yang dingin, adalah: 1. Jangan biarkan kamera anda terus menyala, jika jeda memotret. 2. Bawalah batere cadangan yang cukup, karena powernya akan terkuras dalam waktu yang singkat.  3. Jika berjalan-jalan, dan tidak memotret, simpanlah kamera di bawah jaket, agar terjaga dengan kehangatannya oleh suhu tubuh kita dan terhindar dari bunga es yang bertebaran sekitar tempat kita memotret. 4. Sebelum berangkat ke lokasi, biarkan perlengkapan fotografi anda menyesuaikan diri dengan temperatur sekitar kita, supaya tidak terjadi kondensasi pada lensa dan bingkai bidik, meskipun di daerah bersalju, kelembaban udara, biasanya rendah.

Gabung-8-(01)

Suasana pagi di perbukitan Kariuzawa, ketika sinar matahari belum menembus pohon-pohon dan menciptakan bayangan yang memukau di atas salju.
 Day 2 (13)
Di kala sinar matahari mulai memainkan cahaya terang dan gelap di atas hamparan salju.

Day 2 (14)

Tatanan alam di sebuah tikungan jalan, yang amat menawan. Menampilkan kehangatan sejati dalam cuaca yang dingin.
Day 2 (15)
Foto kiri:
Warna-warna yang cetar mulai menghiasi alam sekeliling, yang 20 menit sebelumnya hanya bernuansa kelabu, seakan enggan bangun dari tidurnya yang nyenyak.

Selesai memotret di daerah perbukitan, dalam perjalanan ke penginapan untuk sarapan, kami mampir di “down town” Karuizawa. Secara arsitektur ditata rapi dan menarik, menampilkan kesan meriah, bersahabat dan hangat.

Foto bawah:
Sebuah “telephone” booth” di pusat Kota Karuizawa, berhiaskan salju di sekeliling dan bangunan-bangunan berwarna cerah, menghibur mata yang sebelumnya hanya memandang lansekap saja.

Day 2 (18)

Winter sports activities.

Seusai sarapan pagi dengan kualitas “stamina breakfast”, kami mampir di “winter activities resort”, yang cukup ramai dengan pemain ski, snow boarding dan ice skating, meskipun hari  itu adalah hari kamis.

Ada 10 jalur untuk berseluncur di atas salju, tiap-tiap jalur dikhususkan bagi tingkat kemahiran para pemain, mulai dari balita dan pemula, sampai ke tingkat mahir dan profesional.

Bagi mereka yang tidak membawa perlengkapan olah raga musim dingin, disediakan peralatan dan baju khusus, dengan cara rental. Dengan demikian, kalau kita hanya mampir ber incognito saja, kita bisa menikmati keceriaan berseluncur di atas salju. Kalau belum mahir, ada beberapa instruktur yang siap mendampingi.

Day 2 (20)

Suasana sekitar clubhouse winter activities, lokasi awal, maupun akhir dari kegiatan berseluncur di atas salju.

Day 2 (21)

Seorang balita, dengan bantuan ayahnya berseluncur dengan santai, di lokasi level satu.

Day 2 (22)

Selain perlengkapan sport, dandanan untuk beraktivitas di atas salju juga menjadi aksesori yang penting. Tentu saja tersedia otomat minuman ringan (dingin dan hangat), sebagai sarana pelepas dahaga.

Day 2 (25)

Kursi gantung (sky lift), siap membawa anda ke titik puncak dari level yang anda pilih. Anda dilarang turun dengan sky lift, karena sarana untuk turun harus dan hanya menggunakan perlengkapan untuk berseluncur (skating shoes, skate boards, ski, bob sledge dan sejenisnya.

Day 2 (26)

Ruang penyewaan perlengkapan dan peralatan berseluncur.

Day 2 (29)

Untuk sensasi sempurna bersalju ria, tersedia akomodasi “log cabin”, yang rustic dan menyenangkan, sehingga kunjungan anda ke tempat ini akan selalu dikenang.

Day 2 (31)

Hidangan pembuka, makan siang kami hari kedua, salad dengan aneka sayuran segar. Yang paling depan wujudnya segitiga berwarna pink adalah winter radish, yang sejatinya adalah umbi-umbian sejenis lobak, yang rasanya lebih mirip dengan umbi bangkuang kita, tetapi lebih “delicate”.

Day 2 (30)

Kedua host kami, Toriuchi Sanchan dan Shinya Kashimura, yang selalu sabar memberikan pengarahan dan bantuan yang diperlukan.

Blog ini adalah bagian pertama dari beberapa blog yang kami tulis, sebagai jurnal perjalanan “fam trip” ke Tokyo dan sekitarnya, tanggal 23 Februari 2016 – 27 Februari 2016. Trip ini berlangsung atas undangan Japan National Tourism Organisation (JNTO).

 

Posted in Japan Fam Trip, February 2016, Phototrips | 1 Comment

Hanami Photo Shooting, the free and easy way (Part 3 – End)

Di hari terakhir, sebelum pulang ke tanah air keesokan harinya, spot-spot yang akan kami kunjungi adalah: Osaka-Jo (Osaka Castle), yang belum sempat kami kunjungi di hari ketibaan kami dari Indonesia,

Hari 4 (1)

Spring at Osaka-Jo Garden.

 

Hari 4 (8)

Osaka – Jo

Hari 4 (7)

Big Stone Slade. How did they transport and put it in place?

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari 4 (2)

Bridge to Rokko Island

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rokko Island adalah tujuan kami berikutnya untuk memotret budidaya Bunga Tulip, sekaligus mencoba LRT,(Light Rail Transport) ke Island Centre.

Hari 4 (5)

Fashion Mart of Rokko Island. Tahun 1989, pernah ada usulan partner Jepang untuk membangun fasilitas semacam ini, di Jakarta Fair Kemayoran, namun akhirnya dianggap kura feasible. Mengunjungi Fashion Mart ini, pada kenyataannya spacenya hanya dihuni sekitar 10%. Kesimpulan, di negeri yang maju seperti Jepang, gagasantersebut tidak jalan.

 

 

Hari 4 (3)Hari 4 (4)

 Selanjutnya kami bermaksud mengunjungi Harbourland – Kobe, untuk mendapatkan suasana Jepang Modern, setelah sebelumnya mengunjungi tempat-tempat yang kaya muatan heritage nya.

Hari 4 (6)

Mosaic Entertainment Centre di dekat Harbourland.

Sebagai acara terakhir dan fotografi “blink-blink”, kami memilih daerah Sinsaibashi di Osaka, untuk “gala dinner”, dengan menu agak mewah (diatas 1500 Yen), yang menjadi penutup rangkaian perjalanan kami selama 5 1/2 hari di Negeri Sakura.

Hari 4 (9)

Airport Limousine Bus, dari Umeda Station ke Bandara Internasional KIX – Kansai.

 

Hari 4

Boeing 777, yang membawa kami pulang ke Jakarta, melalui Singapore.

 

Sayonara. Okini (Arigatou Gozaimasu dalam dialek Kansai)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Posted in Photography, Phototrips | Leave a comment

Hanami Photo Shooting, the free and easy way (Part 2)

 

Toko kerajinan tangan di Arashiyama

Melanjutkan perjalanan kami di Arashiyama, kami batalkan kunjungan ke Tenryuji Temple, karena dari luar kelihatan Bunga Sakuranya masih menguncup. Pilihannya adalah langsung menuju Hutan Bambu yang menarik di pinggiran Taman dari Tenryuji Temple.

Arasiyama (1)

Di depan Nonomiya-jinja shrine, sekelompok wisudawan usai melakukan ritual syukur, selepas upacara akademik

Arasiyama

Menyusuri jalan sepanjang lebih kurang 400 meter, menikmati pemandangan hutan bambu yang keren

Arasiyama (2)

Sekelompok Maiko menyemarakan suasana di The Bamboo Grove, Arashiyama.

 Mumpung sedang agak santai dan tidak banyak anggota rombongan yang perlu diurus, kami putuskan untuk mengambil rute yang tidak biasa, sambil sekalian melakukan survey.

Ternyata spekulasi ini memberikan hasil di luar dugaan, karena kami menemukan jalan pintas yang penuh kejutan ke arah Stasiun Hankyu, yang memang merupakan tujuan berikutnya.

Biasanya untuk kembali ke pusat keramaian, di ujung hutan bambu, kami menyusuri kembali, jalan menurun. Kali ini kami teruskan dan di persimpangan berikutnya, kami memilih jalan ke kiri yang terbuat dari batu-batu. Beberapa obyek foto menarik dalam penyelusuran ini adalah pohon-pohon tua yang artistik.

old treeAkhirnya kami menemukan juga tanda petunjuk ajalan yang mengindikasikan arah; The Togetsukyo Bridge  (“Moon Crossing  Bridge”). Dari rasa bimbang sebelumnya, kini terbayang kira-kira peta yang akan kami lalui.

The bridge

A stroll in the evening

The bridge (1)

Ranting-ranting yang belum dihiasi kuntum-kuntum sakura

The bridge (2)

Ngobrol sejenak.

 

The bridge (3)

Jembatan yang kami tuju dengan pemandangan di belakangnya.

 Beginilah tampak dari bunga-bunga Sakura yang baru mulai “mentas”, menghiasi dahan-dahan kering, setelah “berjuang” selama musim salju.The bridge (4)
 The bridge (6)

 “Ritual selfie” dengan penarik rickshaw di dekat jembatan Togetsukyo.

The bridge (7)

 

 

 

 

 

Kumpulan awan yang menarik, menambah asyik suasana di petang hari.

 The bridge (5)
 The bridge (9)
 
 

 

 

 

 

 

 

“oji-san” Anwar sangat membantu mereka yang narsis membuatkan fotonya. 

 

 

The bridge (10)

Sebuah cafe di tepian sungai yang romantis di kala senja,

 

The bridge (11)

Stasiun di mana kami menuju “pulang” ke Osaka, langsung dari Arashiyama.

Perjalanan memakan waktu lebih kurang 65 menit, langsung menuju Stasiun Umeda di Osaka, yang sudah sangat kami kenal. Berulang kali Pak Anwar menyatakan betapa nyamannya kartu terusan tersebut, apalagi setelah kehilangan yang dimilikinya, sehingga dapat membandingkan “harga terusan”, vs harga eceran.
Karena kartu terusan yang ada masa berlakunya berakhir tengah malam itu, kami berikhtiar untuk membeli lagi untuk 2 hari berikutnya. Apa daya, kami sulit menemukan counternya, karena kebetulan tourist information yang kami dapati tutup pada sore itu, dan perut keroncongan serta kaki yang pegal mengharuskan kami rehat dan mencari makan malam dulu di Stasiun Umeda. Setelah makan, dengan pikiran yang lebih jernih, kami berhasil menjumpai counter penjualan, terlambat beberapa menit.

Baiklah besok pagi saja, semoga keberuntungan menyertai kami.

Day 3 (5)

08:00 Suasana pagi di Stasiun Umeda, setelah berhasil mendapatkan kartu terusan seharga 2000 Yen.

Day 3 (4)

Menuju platform Hankyu Line, melalui jalur yang belum pernah kami lalui.

Day 3 (6)

Ternyata mengasyikkan.

 

Day 3 (3)

Menunggu bus di Shijo Kawaramachi.

 
Day 3 (1)

Dalam perjalanan ke Heian Shrine di Kyoto.

Day 3 (2)

Gapura masuk Heian Shrine.

 
Day 3

Frame within frame dengan pintu dan pilar2 kayu yang masif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berbekal cetakan google map yang kami bawa dari Jakarta, kami berhasil memetakan di mana kami harus berpindah kereta/bus menuju sasaran yang kami rencanakan. Sukses,…di sinilah manfaat kartu terusan membuktikankan “kesaktian”nya. 

Kalau kita boleh memetakan spot fotografi di Kyoto menjadi dua bagian besar, saya menyebutkannya sebagai “bagian Barat Kyoto”, yang kami jalani hari sebelumnya dan hari ini kami menjelajah; “bagian Timur Kyoto”.

 Sejatinya di sebelah Utara Heian Shrine ada dua spot yang tidak kami jelajahi, yaitu: Ginka-kuji (The Silver Pavillion), yang merupakan “adik” dari Kinka-kuji dan The Philosopher’s Path (Walk), yang kami antisipasi belum mekar  (mankai) bunga sakuranya, sehingga mungkin kurang menarik untuk dipilih sebagai obyek fotografi.

Day 3 (7)

Gerbang Selatan Heian Shrine

Day 3 (19)

Arsitektur tradisional Rumah Jepang, yang disebut Machiya (town house).

 Keputusan kami adalah menyusuri jalur yang saya hafal betul, karena menjadi jalur yang dilalui berjalan kaki di tahun 2011, ketika memotret; Mineko Iwasaki (Memoirs of A Geisha) dan suami beliau, untuk Garuda Inflight Magazine. Target sampai makan siang adalah, sampai di Kaniya Restaurant, yang terkenal dengan hidangan kepiting, sesuai dengan namanya.

Day 3 (8)

Dua Maiko sedang berjalan dengan latar belakang Maciya (town house). Untuk mendapatkan foto ini waktu yang diperlukan kira-kira 20 menit, mulai dari “menemukan” kedua Maiko ini dari kejauhan, sedang menuju ke arah kami berada, memilih settingnya, menunggu mereka berbelanja dan berharap mereka akan melewati set yang kami pilih.

 

 Day 3 (18)

Sebelum tiba di Maruyama Park, ketika Pak Anwar sedang asyik memotret pohon-pohon artistik yang bisa kita jumpai sepanjang jalan tersebut, saya menemukan sebuah rumah dengan kebun yang rindang, memberikan keteduhan di hati dan istirahat sejenak.

Selanjutnya, kami tiba ditempat parkir bus, sekitar Maruyama Park, tepatnya di seberang Choin-in Temple, tempat saya dijemput oleh Jin’ichirō Satō-san, yaitu suami dari Mineko Iwasaki, sebelum sessi pemotretan.

Day 3 (9)

Sebuah pohon Sakura yang tengah mekar di sudut jalanan.

 

 
Day 3 (20)

Menantang langit yang biru.

 

 

 

 

 

 

 

 

Memasuki gerbang Maruyama Park, suasana persiapan Festival Hanami mulai terasa. Lapak-lapak telah digelar dan dijaga oleh beberapa orang secara bergantian, guna memastikan pada waktunya tidak diserobot kelompok lain. Urusan jaga menjaga ini bisa berlangsung berhari-hari. Dugaan kami yang kami jumpai adalah persiapan untuk hari Sabtu – Minggu dua/tiga hari ke depan.

Day 3 (16)

Persiapan untuk Festival Hanami.

Day 3 (15)

Day 3 (21)
 

 

 

 

 

 

 

 Keberuntungan lain yang kami jumpai di dalam Maruyama Park, adalah sessie pemotretan pre wedding. Tidak melewatkan kesempatan emas ini, kami mengabadikan beberapa frame. Pengantin prianya, cukup fasih berbahasa Inggris. Tercermin dari responnya atas ucapan selamat kami, yang dijawab dengan; “thank you, sir”.

Day 3 (13)

Kaniya Restaurant, a must to try, 300 meter dari “pertigaan Gion” (perkampungan Geisha yang sohor).

Makan siang kami terdiri atas; nasi putih yang pulen, misoshiru, dan tempura udon, lengkap dengan acar2 an dan salad.

Usai makan siang, kami menyebrang jalan lagi ke tujuan berikutnya Kiyomizudera Temple (Temple of The Pure Water), melalui lorong-lorong yang menanjak, melewati “machiya town houses” di Higashiyama dan Hokan-ji Temple, di antara perkampungan yang padat. Banyak atraksi di jumapi di sini, yaitu; gerai2 yang menjual suvenir dan makanan yang khas. Juga aktivitas pengunjung, baik para turis maupun penduduk tempatan, yang menambah meriahnya suasana Hanami kali ini.

ari ke 3 (2)

ari ke 3ari ke 3 (1)

 Memasuki pelataran Kiyomizudera, ratusan orang telah memadati hampir seluruh area, sehingga sulit mendapatkan sudut fotografi yang baik.

Di samping itu bagian inti dari temple ini, tengah menjalani restorasi, penuh dengan perancah dan bahan bangunan, serta para tukang yang terlibat dalam pekerjaan konstruksi tersebut.

Day 3 (10)

Sebuah restoran di pelataran yang tinggi dengan pohan Sakura yang asri.

 

ari ke 3 (3)

Pagoda Utama Kiyomizudera.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Katahati ingin berlama-lama di sini, karena banyaknya potensi foto “human interest” yang menarik, namun demikian, kami melanjutkan pengembaraan kami, di sore hari itu, ke spot lain yaitu: Fushimi Inari Temple, di bagian tenggara Kyoto.

ari ke 3 (4)

ari ke 3 (5)Cuaca menjelang senja, sungguh membantu mendapatkan foto-foto yang bagus. Cahaya yang lunak-lunak kuat itu, merekam nada warna dan suasana yang enak dipandang mata.

Agak lama juga kami di lokasi ini, karena merupakan spot terakhir utnuk hari itu, Kamis, 26 Maret 2015.

Jarak lokasi Fushimi Inari Temple ke “stasiunnya”, cukup dekat dan datar, sehingga tidak terlalu berat untuk di jalani.

Dengan sekali “salah” mengambil keputusan, akhirnya kami berhasil mendapatkan KRL, jarak jauh untuk kembali ke Osaka. Jalurnya berbeda dari yang biasa kami jalani, sehingga perlu berganti kereta dua kali untuk sampai di Higobashi, tempat kami menginap.

Continued to: https://jepretter.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=821&action=edit&message=6&postpost=v2. 

 

 
 
 
 
Posted in Photography, Phototrips | Leave a comment

Merajut sebuah impian yang tertunda. Memotret lagi di Pulau Belitung

Kami mengantar anda ke spot-spot fotografi terbaik di Pulau Belitung, selanjutnya, silakan anda berimprovisasi sepuasnya.

Dari tanggal 5 Juni – 7 Juni 2015, Sriwijaya Inflight Magazine, menggagas sebuah Photo Shooting Trip ke Pulau Belitung.

SONY DSC

Burung camar menyambar di Pulau Batu Belayar, salah satu gugusan pulau yang photogenic di Belitung

Hari pertama, Jum’at, 5 Juni 2015.

Kumpul di Terminal 1B, Bandara Soekarno-Hatta, jam 04:00 dan berangkat dengan Penerbangan SJ050, jam 06:20. Waktu penerbangan kira-kira 60 menit. Para peserta menyiapkan gear fotografinya untuk dibawa naik ke kabin.

Setiba di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, staff dari Hotel Biliton akan menguruskan seluruh bagasi check in, untuk dikirimkan ke hotel. Sedangkan tour leader setempat akan membawa kita dengan bus, ke Belitung Timur, sambil memotret beberapa spot yang potensial sepanjang perjalanan.

Belitung 2015 (7)

Rawa bekas galian tambang timah, merupakan obyek yang sangat indah untuk dipotret di pagi hari.

Selain rawa-rawa, rumah tradisional yang dindingnya terbuat dari kulit kayu, juga menarik untuk menjadi koleksi foto kita.

Sudah menonton atau membaca Laskar Pelangi? Berikut, rencananya kita berkunjung ke Replika Sekolah SDN Muhamadiyah di Desa Ganthong yang menjadi salah satu properti film tersebut.

SONY DSC

Replika “Sekolah SDN Muhamadiyah” Ganthong, Belitung Timur, yang digunakan untuk Film Laskar Pelangi.

 Untuk mengisi waktu hingga makan siang ada 3 opsi lokasi foto yang dapat dikunjungi dalam perjalanan ke Kelapa Kampit.

1. Pantai Bukit Batu, 2. Pantai Burung Mandi dan 3. Vihara Kwan Im di Burung Mandi.

Belitung LR (4)

Vihara Kwan Im, diatas batu granit berbentuk jari-jari tangan.

Burung Mandi

Pantai Mandi Burung

Bukit Batu

Pantai Bukit Batu.

 Brunch di Resto Manli, Kelapa Kampit, dengan menu pembuka; Mie Belitung dengan sambal yang enak, nasi hangat dan pilihan masakan khas Manli, didampingi; segelas jeruk kunci peras yang menyegarkan.

Belitung LR (13)

Mie Belitung, sate ayam dan udang goreng tepung.

Setelahnya, menuju Kota Tanjung Pandan, untuk check in di Hotel Biliton dan beristirahat sampai jam 16:00.

hotel

Hotel Biliton di ambil dari ruang makan ke arah kolam renang dan deretan kamar.

Sessie fotografi sore dilakukan di lokasi; Tanjung Tinggi, yang menjadi spot pemotretan batu-batu besar dalam film Laskar Pelangi. 

Belitung LR (26)

Sunset di Tanjung Tinggi.

Tanjung Tinggi

Menjelang sunset di Tanjung Tinggi.

Belitung LR (25)

Prasasti di lokasi pengambilan gambar film Laskar Pelangi.

Usai memotret sang matahari masuk ke peraduannya, kita kembali ke hotel untuk makan malam (alternatif lain adalah makan diresto di Tanjung Pandan).

Hari kedua, Sabtu, 6 Juni 2015.

Morning call jam 04:00, disusul dengan morning tea/coffee. Target tiba di Tanjung Kelayang , jam 05:00. Setengah jam berikutnya, menyapa nuansa pagi, di sekitar dermaga.

Belitung LR (14)

Tanjung Kelayang di pagi hari.

Lanjut dengan perjalanan ke Pulau Batu Belayar, pulau dengan menhir-menhir raksasa yang menjadi sasaran kamera kita selama 90 menit berikutnya. Merapat dari arah barat, mendapatkan rona merah dengan siluet yang asyik.

Belitung LR (27)

Sebuah momentum alam dahsyat, semoga dapat diabadikan dengan sempurna, menjadi koleksi foto yang berharga.

Belitung LR (15)

Inilah nuasa pagi yang dapat diperoleh dari arah sebaliknya, ketika perahu yang kita tumpangi mencari tempat pendaratan.

Setelah mendarat agar diperhatikan agar “belum” meninggalkan jejak kaki di pasir sekitar menhir-menhir utama, dengan cara berjalan di pasir bagian luar pulau saja. Kita masih akan mengabadikan batu-batu granit dengan foreground hamparan pasir yang mulus. Bila semua peserta sudah mendapatkan foto “sejuta umat” nya dengan memuaskan, kita akan membuat foto kelompok untuk peringatan, dan setelahnya; …silakan………pasirnya boleh diacak.

Belitung 2015 (25)

Batu-batu menhir yang mempesona, dari sudut pengambilan terukur, dengan hampatan pasir yang masih mulus.

SONY DSC

Sudut lain dengan jejak para peserta.

SONY DSC

Carilah alternatif lain dari batu-batu menarik, yang ada di sekeliling kita. 

 Puas memotret, waktunya untuk sarapan; Nasi Ayam, khas Hotel Biliton, yang disiapkan rekan-rekan dari hotel. Kotak makanan dan sampah lainnya, agar dikumpulkan dalam tempat yang disediakan agar kita meninggalkan Pulau Batu Belayar,  dalam keadaan yang sama bersih seperti kita temukan saat kita mendarat. 

 

Menuju lokasi berikutnya

Next stop

Next destination, Pulau Lengkuas

SONY DSC

Mendekat ke Pulau Lengkuas, dengan mercu suarnya yang gagah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tantangan berikutnya adalah naik dan memotret dari atas menara dengan 18 1/2 lantai. Kita perlu melepas alas kaki dan mencucinya sebelum naik ke puncak menara guna mencegak korosi dari anak tangga dan lantai menara yang semuanya terbuat dari besi. 

Dua foto berikut memperlihatkan pemandangan dari atas menara dan lampu suar yang terawat dengan baik.

Belitung LR (16)

Ceruk di antara karang laut, sekitar Pulau Lengkuas yang menjadi jalur akses untuk mendarat

 

Belitung LR (17)

Lampu suar di puncak menara, dengan pandangan ke arah selatan, suatu landscape yang spektakuler.

 

Dalam perjalanan kembali ke Tanjung Kelayang, bila waktu mencukupi, beberapa pulau dan spot lain dapat menjadi pilihan menambah dan melengkapi koleksi foto yang telah terekam.

Belitung LR (10)

Pulau Burung, 20 menit dari Pulau Lengkuas.

 Mampir sebentar di Pulau Burung untuk membuat foto-foto piktorial di tengah hari, sungguh menjadi pengalaman memotret yang tidak biasa !!!.

Belitung LR (33)

Refleksi cahaya yang indah, menari-nari di atas air.

 

Belitung LR (5)

Belitung LR (32)

“Frame” diagonal.

Belitung LR (31)

Mid day pictorial, very unusual.

 Makan siang dekat tempat pendaratan di Tanjung Kelayang, kemudian kembali ke hotel untuk istirahat dan menyegarkan tubuh. 

 

Tidaklah lengkap, sebuah perjalanan fotografi, tanpa obyek-obyek yang menampilkan sosok dan kegiatan manusia. Untuk kesempatan memotret Human Interest, lokasi yang dipilih adalah Tanjung Binga, sebuah perkampungan nelayan, lengkap dengan penjemuran dan penyimpanan ikan asin, reparasi jala dan perahu (kalau ada).

Belitung LR (7)

Tatanan alam yang dahsyat di Tanjung Binga.

Belitung LR (11)

Pengepul ikan asin di atas para-para yang terbuat dari kayu gelam.

Belitung LR (18)

Memindahkan ikan asin yang telah kering ke penyimpanan.

Belitung LR (6)

Senja telah menjelang.

Menjelang senja, kesempatan memotret sunset terhampat luas di depan kita, silakan memilih foreground dan angle yang anda minati, sebelum kembali ke Tanjung Pandan untuk makan malam, dan istirahat sambil bincang-bincang dan bedah foto-foto yang telah anda rekam dalam 2 hari perjalanan.

 

Hari ketiga, Minggu 7 Juni 2015

Pagi hari, tanpa morning call, adalah ari “free and easy”. Sarapan pagi disediakan di teras hotel, sambil menikmati hembusan angin pagi yang sejuk.

Sekitar jam 08:00, kita akan berangkat ke bekas galian kaolin, memotret kubangan2, yang terlihat seperti tonjolan-tonjolan es di wilayah kutub bumi ini.

Belitung LR (12)

Bekas galian Kaolin.

Belanja oleh-oleh khas Belitung, aneka ragam snack, terasi Belitung dan buah tangan lainnya (personal account, tentunya), merupakan acara selanjutnya.

Coffee break (rehat kopi) khas Kong Djie, merupakan acara penutup dari rangkaian perjalanan kita kali ini.

Belitung LR (24)

Jopi Kong Djie, diseduh di luar warungnya, kemudian disajikan “black ataupun dengan susu manis.

 Acara optional selanjutnya, tergantung waktu yang masih tersedia, dengan mengunjungi Museum Timah, Rumah Tuan Kuase atau Jembatan Kubu di Batu Itam. Selain untuk transportasi darat, semua pengeluaran (misalnya untuk makan siang atau jajan di bandara, adalah personal account/pengeluaran pribadi).

Setelah mengantarkan anda sampai check in di pesawat yang membawa kita pulang ke Jakarta,  kami sungguh berharap bahwa perjalanan “impian” yang kami kemas dengan mengacu kepada lebih dari lima kali perjalan serupa dan masukan-masukan peserta sebelumnya telah dapat memberikan dan menghasilkan koleksi foto yang berbobot, kenangan yang indah dan last but not least, persahabatan yang menyenangkan dengan semua pihak yang terlibat dalam perjalanan kali ini.

Sampai jumpa di lain photo trip bersama kami.

 

 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Posted in Photography, Phototrips, Uncategorized | Tagged | 4 Comments

Hanami Photo Shooting, the free and easy way. (Part 1)

 

SakuraPertengahan tahun 2014, saya menerima telepon dari seorang sahabat yang menanyakan apakah ada rencana pergi ke Jepang untuk memotret Bunga Sakura yang mekar di awal musim semi 2015.

Setelah itu, saya menghubungi kawan lain yang biasa menjadi tour leader rombongan fotografer, yang menyatakan kesanggupan- nya untuk membantu menguruskanhal-hal yang terkait dengan rencana tersebut.

Apa daya, kawan ini terkendala dengan beberapa persoalan pribadi, sehingga di awal Januari 2015, dia menyatakan tidak dapat membantu. Dilain pihak, sahabat saya yang minat pergi telah membatalkan beberapa rencana perjalanan untuk dapat pergi memotret bersama saya.

Singkat kata, saya mencari pihak lain yang dapat menguruskan tiket pesawat dan akomodasi untuk maksud tersebut. Proses ini dilakukan paralel dengan mencari info sebanyak-banyaknya dari brosur-brosur yang ada dalam file saya, sambil browsing di internet untuk mencari informasi yang lebih detail. Puji Tuhan, setelah berselancar selama satu bulan lebih, saya mantap untuk menjadi tour leader, sekaligus mentor fotografi bagi sahabat saya itu, dengan mengutamakan effisiensi biaya yang sebesar-besarnya. Perlu dicatat bahwa kondisi keberadaan tiket pesawat dan akomodasi, sangat berfluktuasi, sehingga harus dilakukan dengan cepat, tanpa meninggalkan aspek ke hati-hatian.

Pada hari yang direncanakan berangkatlah kami berdua ke Osaka, dengan satu kali transit di Singapore.

transit

Transit di Singapore dalam perjalanan ke KIX

 

Hari pertama di Kansai.

Keesokan harinya kami tiba di Kansai International Airport (KIX), sekitar jam 08:30 waktu setempat, setelah perjalanan, lebih kurang 10 jam sejak dari Jakarta. 

Setelah menyelesaikan dokumen imigrasi dan pemeriksaan bea cukai, teman seperjalanan saya, Pak Anwar Soehendro, menukarkan uangnya dengan mata uang Yen Jepang, sementara saya mencari kantorpos untuk mengirimkan paket berisi bubuk kopi Indonesia kepada sahabat Jepang saya yang bermukim di Yokosuka, Yokahama. Urusan kami selesai jam 09:15. Sambil mendorong trolley, kami naik kembali ke lantai 2 dan menyebrang ke Stasiun Kereta Rel yang menyatu dengan Bangunan terminal, untuk mencari info dan tiket terusan (Kansai Thru Pass), sebagaimana info yang kami pelajari di internet.

Thrupass-edited

Harga tiket terusan ini 4000 Yen (sekitar Rp 425.000,-) untuk 2 hari, per orang.

Dengan masing-masing satu pass di tangan mulailah kami berkelana dengan berpatokan kepada info-info yang telah kami peroleh dan catat sebelumnya. Kami sepakat untuk menyimpan koper-koper dan barang-barang yang tidak diperlukan di hotel tempat kami akan menginap. Perjalanan 1,5 jam dari KIX ke  Nishi-ku Edobori 1-3-25, Osaka, dengan transit di Stasiun Namba, berganti moda dengan kereta rel di bawah tanah (subway) berjalan lancar, meskipun harus mengangkat koper melalui tangga yang cukup terjal (belakangan kami dapati, persoalan “angkat koper melalui tangga” dapat difasilitasi dengan menggunakan lift, yang ada di setiap stasiun, asal kita jeli mencarinya).

HigobashiDi depan pintu masuk ke subway station Higobashi, hanya 50 meter dari akomodasi kami. Di sebrang point ini ada warung cepat saji, yang menjadi langganan kami, bila  waktu makan tiba, dan kami sedang berada sekitar hotel.

meals

Hankyu 

 

 

 

 

 

 

Pilihan makanannya: Gyumessi (Gyudon), yaitu Nasi putih, dengan tumis daging sapi dan bawang bombay, sup miso (mizoshiru), bisa minta tambahan salad (total kira-kira 450 Yen). Pilihan lainnya adalah Nasi kari Jepang. Minuman di warung ini gratis. Untuk sarapan lauknya ditambah telur mata sapi dan sosis.

angle (1)

 Dari stasiun inilah, petualangan kami dimulai, menuju Stasiun Kintetsu Nara.

 DSC01594Poster besar Todaiji Temple dan The Deer Park, di luar stasiun Nara. Berjarak 1,5 km dari kedua tempat wisata tersebut.

DSC01601

Hujan rintik-rintik tidak menghalangi bagian pertama dari trip in. 

Dan sampailah kami kami di spot pertama yang bunga sakuranya mulai mekar.

anwar

Ngincer siapa, oom.

 

Nara (2)

Teenagers crossing the street in Nara.

Nara (1)

At the Deer Park

 

 Todaiji Temple in Nara

Nara

 

 Hari ke dua di Kansai.

Diawali dengan sarapan pagi di warung dekat hotel (yang ternyata buka 24 jam). Pilihan menu masih terbatas pada makanan “aman” yang dikenal saja, sambil melihat makanan apa yang dipilih oleh “tetangga”,orang Jepang, sambil cross check ke lembaran menu yang pagi itu kami temui terjemahan dalam Bahasa Inggris. Dicatat dalam benak dan diprogram untuk esok pagi.

Breakfast

Semangkuk nasi hangat dengan tumis daging sapi dan bawang bombay, sup miso, salad irisan kubis dan teh/air sepuasnya. Bumbu/saus penyedap (condiments) lengkap, termasuk salad dressing yang khas.

 Selanjutnya, menuju Stasiun Utama Umeda dan mencari sambungan Kereta Rel ke Kyoto. Sesuai anjuran petugas peron, kami menggunakan Hankyu Line (yang valid dengan kartu terusan kami).

Hankyu (1)

Hankyu Line to Kyoto from Umeda Osaka.

 Perhentian terakhir di Kyoto adalah Stasiun Shijo Kawaramachi, dengan perjalanan sekitar 1 jam.

Shijo Kawaramachi

Tiba di Stasiun Shijo Kawaramachi

Shijo Kawaramachi (2)

Cari info di Tourist Information Centre, sambil konsultasi rute yang dirancang untuk hari tersebut.

 

 Setelah cukup mendapatkan informasi, kami menuju ke spot pertama untuk hari itu, yaitu: The Imperial Gardens, Kyoto.

Imperial Gardens Kyoto (1)

Dari pengalaman mengujungi spot ini di tahun 2010 dan 2011, varitas bunga sakuranya banyak dan tertata dengan rapi, ditambah pohon-pohon besar lainnya, yang berpotensi menjadi obyek foto yang menarik.

Imperial Gardens Kyoto (4)

Imperial Gardens Kyoto (3)

Imperial Gardens Kyoto (2)

Kegiatan para pengunjung taman yang luas ini, juga mencakup dinding panjang yang menjadi pembatas taman dan Istana di dalamnya. Ada dua hal yang membuat kami tidak masuk ke dalam halaman Istana, yaitu: 1) Untuk mengujungi bagian dalam perlu ada pendaftaran sebelumnya, dan ke 2) memotret di Taman Luar saja, memerlukan banyak waktu.

Kami membatasi waktu kami, supaya dapat mengunjungi spot menarik lainnya.

pointing at

Imperial Gardens Kyoto
 Juxtaposition

 

Dalam perjalanan menuju spot berikutnya, kami melewati sebuah jalan yang suasananya mewakili musim semi di Kyoto, dihiasi bunga sakura yang baru mekar.

street in kyoto

A stree in Kyoto, during Spring

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan bus umum no 204 (bisa juga no 205), kami menuju ikon Kota Kyoto, yang juga merupakan ikon Jepang yang wajib dikunjungi;

The Golden Pavillion atau Kinka-kuji, di bagian Barat Laut kota, dimana banyak sekali situs peninggalan masa kejayaan Jepang tempo dulu.

 

Kinkakuji (2)

Kinkakuji (1)

Teori dasar memotret landscape; foreground, object, background. 

Kinkakuji

Hiasan puncak dari The Golden Pavillion

 Saking gembiranya, Pak Anwar kehilangan kartu transportasi terusannya, ketika mengambil sesuatu dari  isi kantongnya. Perjalanan lanjutan hari itu beliau menggunakan tiket eceran untuk 3 rute berikutnya; pertama naik bus satu trayek ke Stasiun Trem Randen Kitano Hakubachio. Kemudian naik Randen Keifuku ke Arashiyama. Dan yang ketiga adalah ticket untuk pulang ke Osaka dan hotel kami.

Naik Kereta Trem Randen selalu menjadi atraksi yang menarik bagi para peserta trip kami ke Arashiyama, karena kereta jadul ini membawa kita ke masa awal industialisasi di Jepang. Stasiun-stasiun kecil yang sederhana, pelintasan kereta yang dioperasikan dengan santai, sungguh merupakan “sesuatu”.

Randen (3)

The Randen tram.

 Apalagi, jika kita berwisata tepat pada puncak Hanami, Bunga Sakura menjuntai ke arah rel dari tepiannya.

Randen (4)

Pelintasan di tepi jalur Randen.

 

Randen (5)

Seorang Maiko, membeli tiket Randen dari mesin otomat.

 Untuk kenyamanan membaca, silakan   bersambung ke tautan ini.

 
 
 
 
 
 
 
 
Posted in Photography, Phototrips | Tagged , , | 2 Comments